

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>INSAN MULIA network</title>
	<atom:link href="http://insanmulia.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://insanmulia.net</link>
	<description>connect and share (Powered by DSIM)</description>
	<lastBuildDate>Thu, 18 Feb 2010 02:46:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bisa Terbeli Rumah Dari Bersih-Bersih</title>
		<link>http://insanmulia.net/2010/02/18/bisa-terbeli-rumah-dari-bersih-bersih/</link>
		<comments>http://insanmulia.net/2010/02/18/bisa-terbeli-rumah-dari-bersih-bersih/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 02:46:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://insanmulia.net/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[Umiati (45); cleaning service
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;
Menjelang Subuh saya sibuk mempersiapkan kebutuhan suami, anak laki-laki yang siap bekerja, serta dua anak yang masih sekolah. Makan pagi ala kadarnya. Jika masih ada nasi, maka saya akan menggorengnya atau ceplok telur untuk lauk makan. Tapi kalau tidak ada, maka roti tawar yang dijual kiloan menjadi sarapan pagi kami, itu saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Umiati (45); <em>cleaning service</em></strong></p>
<p><strong>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</strong></p>
<p><span style="color: #000000;">Menjelang Subuh saya sibuk mempersiapkan kebutuhan suami, anak laki-laki yang siap bekerja, serta dua anak yang masih sekolah. Makan pagi ala kadarnya. Jika masih ada nasi, maka saya akan menggorengnya atau </span><em><span style="color: #000000;">ceplok </span></em><span style="color: #000000;">telur untuk lauk makan. Tapi kalau tidak ada, maka roti tawar yang dijual kiloan menjadi sarapan pagi kami, itu saya campur dengan telor, dadar roti </span><em><span style="color: #000000;">lah </span></em><span style="color: #000000;">bisa dibilang begitu.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Pukul setengah 7, dua anak perempuan saya yang bersekolah di SMK dan SMP swasta di Palembang ini berangkat dengan diantar anak laki-laki saya dengan menggunakan motor. Menghemat ongkos. Mengingat mereka hanya bisa saya kasih tiga ribu tiap harinya, dan itu sudah termasuk ongkos.<span id="more-297"></span><br />
</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Setelah pekerjaan rumah beres, giliran saya bersiap-siap untuk bekerja di salah satu kantor tempat jual beli perumahan. Bukan sebagai penjual, tapi hanya sebagai orang yang membersihkan, merapikan, serta menyediakan minum para pegawai di sana. Pukul 7.30 an saya keluar rumah, dan pulang sekitar pukul 10.30 dilanjutkan dengan jualan di warung kecil.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Di sana saya harus membersihkan kantor berlantai 3. Menyapu, mengepelnya setiap hari, dan merapikan serta menyediakan minum untuk pegawai.  Semua ini saya lakukan tidak lain hanya untuk menyekolahkan anak-anak sampai selesai. Mengingat anak-anak memiliki keinginan untuk bisa kuliah, saya hanya bisa bilang pada mereka “</span><em><span style="color: #000000;">Mak nurut be apo yang kamu pengen, selagi mak masih idup. Mak usahake</span></em><span style="color: #000000;">.”</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Empat orang anak yang sudah berkeluarga, alhamdulillah sudah bisa saya lepaskan. Paling tidak mereka bisa membiayai keluarganya sendiri. Saya pun tak mau minta-minta pada anak, karena mereka harus menghidupi istri dan anak-anaknya yang masih kecil. Tapi kalau mereka ngasih, ya saya terima.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Kerja di kantor ini tak membuat saya bosan. Selain bosnya ramah, dia pun tak menuntut banyak pada saya. Kalau pun saya sakit, dia tidak meminta saya untuk mengepel ketiga lantai tersebut. Pernah hampir selama satu bulan penuh saya izin tak masuk, karena menjaga suami saya di rumah sakit akibat selalu muntah darah – dia datang menjenguk ke rumah dan memberikan gaji saya sebulan penuh. Saya pikir akan dipecat, tapi ternyata tidak.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Saya tak banyak omong dengan bos saya, kecuali menjawab apa yang dia tanya. Bukan itu saja, waktu saya lagi perlu uang untuk menyambung anak saya masuk SMK, dia langsung meminjamkan. Cara pelunasannya pun tak terlalu memaksa. Dia hanya memotong 50 ribu dari gaji saya yang hanya 300 ribu tiap bulannya.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Gaji itulah yang kugunakan untuk uang makan, biaya sekolah. Pastinya itu semua tidak akan cukup, tapi Allah membantu melalui anak-anak saya yang masih bersekolah dan bekerja ini. Anak-anak saya bersekolah per bulan bisa dapat upah 70 ribuan dari menagih uang jaga malam, dan jualan barang plastik itu mereka gunakan untuk keperluan sekolah, uang buku, fotokopi atau lainnya. Sedang anak cowok yang bergaji lumayan inilah, melengkapi kekurangan, dari biaya sekolah, uang makan dan lainnya.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Sedang uang jajan mereka sehari-hari dari hasil jualan tiap harinya. Walau hasil jualan hanya 10 hingga 15 ribu tiap harinya, itu cukup untuk mengongkosi mereka. Karena itu saya selalu mengingatkan pada anak-anak saya, “</span><em><span style="color: #000000;">Hidup itu apo adanyo be. Jangan sampe meminjam sana sini. Terutama duit hanya untuk keperluan yang dak ado guno. Kalo ado yo beli, kalo dak ado yo diem be</span></em><span style="color: #000000;">. Hidup sudah susah jangan lagi dibuat susah.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Mungkin karena itulah Allah </span><em><span style="color: #000000;">kaseh </span></em><span style="color: #000000;">dengan saya. Dari pekerjaan lama, walau statusnya </span><em><span style="color: #000000;">idak </span></em><span style="color: #000000;">berubah sebagai orang yang beres-beres dan ngepelin lantai. Saya bisa terbeli rumah, walaupun kecil – yang saat ini ditinggali oleh anak saya beserta istrinya. Satu yang saya pegang dari dulu, ‘jujur’. Saya sudah berniat kalo saya jujur maka anak-anak saya akan selamat dan lulus sekolah – tapi kalo saya mencuri, maka anak saya akan putus di tengah jalan. </span><strong><span style="color: #000000;">(Nurbaiti)</span></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://insanmulia.net/2010/02/18/bisa-terbeli-rumah-dari-bersih-bersih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Anak SMART Ekselensia</title>
		<link>http://insanmulia.net/2010/02/16/kisah-anak-smart-ekselensia/</link>
		<comments>http://insanmulia.net/2010/02/16/kisah-anak-smart-ekselensia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 02:13:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://insanmulia.net/?p=295</guid>
		<description><![CDATA[M Faisal Juliansyah dan Chairul Umam 
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;
Smart Ekselensia Indonesia adalah sekolah percepatan yang terletak di kota Bogor. Di mana seluruh siswanya adalah anak laki-laki yang berprestasi dan tergolong sebagai kaum dhuafa. Alhamdulillah, kami berkesempatan merasakan pendidikan di sana. Smart ekselensia menerapkan kurikulum pendidikan selama lima tahun (jenjang SMP dan SMA) dengan dana operasional berasal dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong><strong><a href="http://farm5.static.flickr.com/4016/4361339340_5a02db073e_o.png"><img class="alignleft" title="lmpi" src="http://farm5.static.flickr.com/4016/4361339340_5a02db073e_o.png" alt="" width="222" height="159" /></a>M Faisal Juliansyah </strong><strong>dan </strong>Chairul Umam </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Smart Ekselensia Indonesia adalah sekolah percepatan yang terletak di kota Bogor. Di mana seluruh siswanya adalah anak laki-laki yang berprestasi dan tergolong sebagai kaum dhuafa. Alhamdulillah, kami berkesempatan merasakan pendidikan di sana. Smart ekselensia menerapkan kurikulum pendidikan selama lima tahun (jenjang SMP dan SMA) dengan dana operasional berasal dari zakat, infak dan shadaqah para muzaki.</p>
<p>Sebelumnya kami harus melewati seleksi ketat, yang seluruh pesertanya berasal dari anak-anak kelas 6 SD/MI seluruh Indonesia. Termasuk juga wilayah Sumatera Selatan di dalamnya dengan DSIM yang menjadi penyeleksinya.<span id="more-295"></span></p>
<p>Alhamdulillah dua tahun berturut-turut, dari Palembang berhasil mengirimkan empat orang siswa. Termasuk kami di dalamnya. Tahun 2006 terpilih Tarmuji dan Umam. Sedang di tahun 2007 terpilih kembali Ari dan Faisal. Sedang tahun 2008 dan 2009, tidak ada lagi teman yang menyusul.</p>
<p>Bukan karena teman-teman berprestasi dari Sumsel tidak ada. Tapi melainkan kebanyakan teman perempuan yang memenuhi syarat. Dari cerita mbak yang ada di LMPI, andaikan ada yang laki-laki, orang tuanya banyak belum mengikhlaskan anaknya untuk sekolah yang terbilang jauh dari mereka. Lima tahun bersekolah di sana tanpa boleh pulang. Kecuali ada hal-hal penting yang mengharuskan pulang. Atau menunggu waktu yang telah ditentukan. Karena kami baru diberikan izin liburan dalam satu tahun hanya tiga minggu saja.</p>
<p>Banyak kisah dan pengalaman yang menyertai kami di sini. Saya <strong>(Umam)</strong>, sekarang sudah duduk di kelas 2 SMA jurusan IPA. Beberapa teman iseng memanggil saya dengan sebutan Ustadz Yusuf Mansyur Junior. Mungkin karena muka saya sekilas mirip Ustadz Yusuf.</p>
<p>Kegiatan di Smart EI yang pernah saya ikuti yaitu menjadi tim jurnalis di sana, berharap bisa belajar menuliskan berita yang saya dapat. Saya pikir akan diawali dengan training dan pelatihan menulis dulu. Eh, nggak tahunya langsung diberi tugas mencari bahan untuk ditulis. Jadi males deh karena saya <em>’kan</em> di situ mau belajar dulu. Bukan langsung buat tulisan.</p>
<p>Terakhir ini, saya ikutan yang namanya tim KPK di Smart EI, yaitu Komplotan Penggerak Kedisiplinan. Saya tidak sendiri, total KPK ini ada empat puluh orang termasuk di dalamnya ada Tarmuji. Ini yang membuat kami harus disiplin dibandingkan dengan teman-teman yang lainnya. Baik itu dalam hal kebersihan maupun bangun pagi. Hampir setiap hari, KPK dibangunkan terlebih dahulu oleh ustadz yang mengontrol kami, jam setengah 4 kami harus sudah bersiap-siap.</p>
<p>Jadi tim ini banyak senang plus sedihnya juga. Senangnya, seluruh angkatan kenal dengan kami. Tapi karena hal itu, kami juga dibenci karena banguni orang yang sedang tidur.&#8211;</p>
<p>Beda dengan kak Umam yang sibuk dengan KPK nya. Kalau saya <strong>(Faisal)</strong> lebih memilih menekuni <em>trashic</em> – permainan alat musik dari barang bekas. Di sini juga saya bertemu dengan kak Tarmuji, hanya kami beda tim saja. Saya sekarang kelas 1 SMA pra jurusan IPA.</p>
<p>Alhamdulillah dari <em>trashic </em>ini saya bisa menabung. Karena setiap diundang untuk membuat pertunjukan, kami dikasih<em> fee</em>. Selain menambah teman, kegiatan ini juga menambah uang saku. Selain <em>trashic</em>, saya juga ikutan pencak silat. Hobinya gerakan yang <em>acrobatic</em>, intinya melompat-lompat. Tapi pernah suatu hari, karena kurang hati-hati akhirnya lompatan saya tidak berhasil dan menyebabkan pelipis saya luka dan akhirnya harus dijahit. <strong>(Nurbaiti/*)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://insanmulia.net/2010/02/16/kisah-anak-smart-ekselensia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semangat valentine = Semangat Berzina?</title>
		<link>http://insanmulia.net/2010/02/16/semangat-valentine-semangat-berzina/</link>
		<comments>http://insanmulia.net/2010/02/16/semangat-valentine-semangat-berzina/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 02:01:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://insanmulia.net/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua mengatasnamakan semangat cinta kasih.</p>
<p>Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa.<span id="more-293"></span></p>
<p>Bahkan tidak sedikit para orang tua, terutama di Barat, yang merelakan dan memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan nafsu biologis dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa hari Valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.</p>
<p>Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan. Orang barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan <em>make love</em> yang artinya bercinta, seharusnya sedekar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna <em>make love</em> atau bercinta adalah melakukan hubungan kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami distorsi parah.</p>
<p>Misalnya, istilah penjaja cinta. Bukankah penjaja cinta tidak lain adalah kata lain dari pelacur atau menjaja kenikmatan seks?</p>
<p>Di dalam syair lagu romantis barat yang juga melanda begitu banyak lagu pop di negeri ini, ungkapan <em>make love</em> ini bertaburan di sana sini. Buat orang barat, berzina memang salah satu bentuk pengungkapan rasa kasih sayang. Bahkan berzina di sana merupakan hak asasi yang dilindungi undang-undang.</p>
<p>Bahkan para orang tua pun tidak punya hak untuk menghalangi anak-anak mereka dari berzina dengan teman-temannya. Di barat, zina dilakukan oleh siapa saja, tidak selalu Allah SWT berfirman tentang zina, bahwa perbuatan itu bukan hanya dilarang, bahkan sekedar mendekatinya pun diharamkan.</p>
<p><em>&#8220;Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk&#8221;.</em> (QS Al-Isra’: 32)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://insanmulia.net/2010/02/16/semangat-valentine-semangat-berzina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keputusan Memilih Gaya Hidup</title>
		<link>http://insanmulia.net/2010/02/10/keputusan-memilih-gaya-hidup/</link>
		<comments>http://insanmulia.net/2010/02/10/keputusan-memilih-gaya-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 14:28:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://insanmulia.net/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[Setiap kita punya cara sendiri menjalankan hidup. Cara kita menjalani hidup sangat bergantung pada motivasi, tekad, cita-cita dan sudut pandang kita tentang hidup itu sendiri.
Ada orang yang kaya, hidupnya penuh dengan gelimangan harta lalu berfoya-foya, bersenang-senang sekehendaknya, maka itu adalah pilihan hidupnya yang harus ia pertanggung jawabkan. Seperti Qorun dan pengikut-pengikutnya yang menganggap harta itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap kita punya cara sendiri menjalankan hidup. Cara kita menjalani hidup sangat bergantung pada motivasi, tekad, cita-cita dan sudut pandang kita tentang hidup itu sendiri.</p>
<p>Ada orang yang kaya, hidupnya penuh dengan gelimangan harta lalu berfoya-foya, bersenang-senang sekehendaknya, maka itu adalah pilihan hidupnya yang harus ia pertanggung jawabkan. Seperti Qorun dan pengikut-pengikutnya yang menganggap harta itu dapat mengekalkan hidup mereka. Ada juga orang yang kaya, tetapi ia dalam kendali hartanya sehingga terjerumus dalam kehancuran bersama hartanya. Seperti sahabat Rasulullah; Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan ra, karena menyakini hartanya titipan Allah swt dan alat memperbanyak kebaikan di dunia ini.</p>
<p>Tetapi ada pula yang justru meninggalkan harta, lau memilih hidup apa adanya. Mengambil bagiannya di dunia secukup kebutuhannya saja, padahal ia sanggup mengumpulkan yang jauh lebih banyak. Seperti Mush&#8217;ab bin Umair ra, duta Rasulullah saw kepada masyarakat Madinah untuk mengajarkan Islam.</p>
<p>Selagi muda, Mush&#8217;ab hidup dan dibesarkan dalam kesenangan dan kekayaan. Ia adalah pemuda Quraisy yang terkemuka, paling tampan, dan menjadi idola gadis-gadis Makkah. Gaya hidupnya manja dan mewah. Setelah keislamannya, Mush&#8217;ab meninggalkan gaya hidup mewah yang pernah dinikmatinya. Terhadap hal ini Rasulullah saw berkata, &#8220;Dahulu aku melihat Mush&#8217;ab tak ada yang menandinginya dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.&#8221;<span id="more-290"></span></p>
<p>Mengambil keputusan seperti yang dijalani Mush&#8217;ab, tentu tidaklah mudah. Sebab, meskipun alur hidup kita sendiri yang menentukan, namun orang-orang yang ada di sekitar kita, keluarga dan kerabat perlu menjadi pertimbangan. Sebab boleh jadi mereka merasa teraniaya dengan keputusan yang diambil.</p>
<p>Setiap  hari kita selalu dihadapkan pada banyak pilihan, dari yang sederhana hingga yang bisa membuat kita merana. Untuk itu, marilah kita renungkan kembali kepingan-kepingan dari kehidupan ini. Mari kita coba memahami mengapa kita harus mengambil keputusan dan seperti apa kita harus melakukannya.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Berhati-hati</span><br />
Hidup ini kita sendiri yang menentukan alurnya, mengikuti setting yang telah ditetapkan Allah tentunya. Sebab setelah keputusan, semua resiko dan tanggung jawab ada di atas pundak kita sendiri, bukan pada orang lain.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Segera Memutuskan</span><br />
Keputusan ada kalanya harus disegerakan, namun ada kalanya pula kita harus mengambil jeda waktu untuk berpikir. Tergantung persoalan yang kita hadapi. Kesadaran yang muncul dalam diri kita yang akan memutar arah dari jalur kesesatan menjadi jalur keselamatan adalah kesempatan yang tak boleh diulur.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Gunakan Kesadaran Hati</span><br />
Keputusan adalah hal kecil yang membuat pernbedaan besar. Namun. Keputusan yang kita ambil mesti dilakukan secara sadar. Kebanyakan orang gagal menapaki keputusannya adalah mereka yang memperturutkan kemauan dan egonya, dan mengesampingkan akal sehat dan nuraninya.<span style="font-weight: bold;"> (*)</span></p>
<p><span style="font-weight: bold;">Bertanya kepada Orang yang Lebih Tahu</span><br />
Seorang muslim seharusnya meminta saran dan pendapat pada saudaranyaketika berhadapan dengan beberapa pilihan.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Berdoa dan Meminta Petunjuk dari Allah</span><br />
Selain kepada sesame manusia, maka yang paling layak untuk kita mintai petunjuk adalah Allah swt. Sebab dialah yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita, bahkan sebelum segalanya terjadi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://insanmulia.net/2010/02/10/keputusan-memilih-gaya-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mainem (72) Penjual Kacang Rebus; &#8220;Tak Perlu Mengeluh&#8221;&quot;</title>
		<link>http://insanmulia.net/2010/02/08/mainem-72-penjual-kacang-rebus-tak-perlu-mengeluh/</link>
		<comments>http://insanmulia.net/2010/02/08/mainem-72-penjual-kacang-rebus-tak-perlu-mengeluh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 02:48:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://insanmulia.net/?p=282</guid>
		<description><![CDATA[
&#8220;Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: center;">&#8220;Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.&#8221; (QS Al-Hadid [57] : 22 &#8211; 23)</p>
</blockquote>
<p>Lorongnya pesing ya nak. Sudah setahun di sini saya berjualan &#8211; bukan untuk sesuap nasi tapi lebih pada pembayaran uang sewa rumah yang selama ini ditempati. Kalau sekadar makan, hampir setiap hari saya dibelikan nasi bungkus oleh orang-orang yang melewati lorong itu.</p>
<p>Awalnya saya sering menolak. Karena di situ saya berjualan bukan peminta-minta. Tapi kata mereka, &#8220;Ini rezeki untuk Mbah&#8221;, &#8220;Ini ada titipan dari Allah&#8221;, dan sebagainya. Juga ditambah sedikit desakan dari mereka. Pernah mereka bilang, &#8220;Mbah, kalo ada rezeki untuk Mbah jangan ditolak&#8221;. Sejak itu akhirnya saya terima setiap apa yang mereka berikan. Walaupun pemberian mereka cukup meringankan saya, tapi sebenarnya saya tidak mau merepotkan mereka.<span id="more-282"></span></p>
<p>Alhamdulillah walau sudah payah <span style="font-style: italic;">cak</span> ini, Allah masih <span style="font-style: italic;">nguatke</span> mbah bisa jualan kacang rebus. Tiap harinya dengan dibantu oleh becak, saya diantarkan sampai ke tempat ini, tempat orang berlalu lalang untuk makan soto (lorong dekat Rosario Cindo, <span style="font-weight: bold;">red</span>). Maklum bae nak sudah tua. Kaki saya tidak cukup kuat untuk berjualan jauh. Apalagi mata saya sudah rabun. Dulu waktu muda, berjalan kaki dari arah depan walikota (rumahnya, <span style="font-weight: bold;">red)</span> sampai ke pasar 26 masih bisa dilakukan (tersenyum).</p>
<p>Tahun 80-an, saya sudah  berjualan sayur di pasar 26. Karena sudah tidak kuat lagi lama-lama duduk di pasar, tahun 90-an saya beralih jualan kacang rebus. Saya punya dua anak, tapi Cuma  memikirkan dirinya sendiri. Untuk itu dari hasil jualan sekarang lebih kurang 15 ribu dalam sehari, saya tabung dengan tetangga untuk membayar kontrakan sebesar 300 ribu per bulannya.</p>
<p>Saya cuma bisa berdoa, minta <span style="font-style: italic;">cukupke</span> keperluan <span style="font-style: italic;">bae</span>. Setiap malam saya harus menyiapkan jualan. Sekitar jam 1 berangkat ke pasar Jakabaring membeli kacang. Kemudian pulang dan mengukus kacang lebih kurang 5 jam. Baru jam 10-an sampai jam 3 sore, sampai kacang habis, baru saya pulang. Sholat sambil melepas lelah. Hanya Zuhur yang tak bisa saya laksanakan, karena harus menjaga kacang rebus sampai terjual habis.</p>
<p>Allah itu <span style="font-style: italic;">baek yo nak</span>, buktinya banyak yang membantu saya. Walaupun saya tidak bisa memberikan dalam bentuk uang, kacang inilah yang bisa saya berikan bagi mereka yang mau tapi tak bisa membelinya.</p>
<p>Jika harus mengeluh pada hidup mungkin tidak akan ada habis-habisnya, sejak ditinggal suami dan harus menghidupi ke lima orang anak seorang diri itu tidak lah mudah. Hingga pada akhirnya mereka meninggal satu persatu karena sakit (diam). Sedangkan dua anak yang ada tidak terlalu peduli dengan saya. Saya maklum saja karena mereka hanya membecak dan uangnya mereka habiskan untuk kebutuhan yang tidak ada guna. Bosan mengingatkan mereka untuk menabung dan mengingat Allah. Akhirnya rumah hanya dijadikan mereka sebagai tempat tidur (sedih).</p>
<p>Untuk itulah uang kontrakan harus saya kumpulkan sedikit demi sedikit setiap hari. Ditambah lagi dari pemberian orang-orang baik itu 1000, 5000, bahkan ada yang ngasih 10 ribu. Semua itu saya kumpulkan dengan tetangga, guna bayar uang kontrakan dan kebutuhan lain terutama kalau saya lagi sakit.</p>
<p>Sedang untuk makan, jarang sekali saya masak. Mungkin hanya hari Minggu. Kadang pun hari minggu, tetangga juga suka ngasih masakan dengan saya (tersenyum). Kalau hari lain, biasanya ada yang memberi saya nasi bungkus &#8211; dan makannya saya bagi dua, untuk pagi dan sore.<span style="font-style: italic;">La tuo cak ini, aku Cuma pacak bepintak, mudah-mudahan disehatke untuk bejualan terus</span>. <span style="font-weight: bold;">(Nurbaiti)</span></p>
<p><span style="color: #009933;"><em><br />
</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://insanmulia.net/2010/02/08/mainem-72-penjual-kacang-rebus-tak-perlu-mengeluh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ruh Sebuah Keputusan</title>
		<link>http://insanmulia.net/2010/02/07/ruh-sebuah-keputusan/</link>
		<comments>http://insanmulia.net/2010/02/07/ruh-sebuah-keputusan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 01:27:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://insanmulia.net/?p=280</guid>
		<description><![CDATA[
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan yang tidak mengetahui sesuatu pun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl : 78)

Mari kita mengingat akan lahirnya kita di dunia, yang tidak memiliki apa-apa dan tidak menanggung apa-apa. Bahkan sangat bergantung pada belas kasih dan bimbingan orang tua dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p align="center"><em>“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan yang tidak mengetahui sesuatu pun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl : 78)</em></p>
</blockquote>
<p>Mari kita mengingat akan lahirnya kita di dunia, yang tidak memiliki apa-apa dan tidak menanggung apa-apa. Bahkan sangat bergantung pada belas kasih dan bimbingan orang tua dan orang di sekitar kita. Hidup kita nyaris tak punya pilihan dan keputusan penting, karena belum memiliki pengetahuan tentang hidup ini.</p>
<p>Melewati fase itu, kita mulai mencoba mengurus diri. Dan itulah awal kita memiliki tanggung jawab pada diri sendiri; memilih sekolah, belajar sunguh-sungguh, memilih aktifitas yang bermanfaat, dan sebagainya. Fase berikutnya, kita mulai  menemukan jati diri kita. Ternyata banyak peran yang harus kita lakoni, dari yang kecil hingga yang berat dan rumit. Di sinilah keputusan-keputusan penting mulai kita ambil; keputusan-keputusan yang sangat menentukan dalam hidup kita, sehingga tidak ada kata main-main atau sekedar coba-coba.<span id="more-280"></span></p>
<p>Ruh sebuah keputusan terkai erat dengan dua hal. <strong>Pertama</strong>, motivasi atau tujuan dari keputusan itu untuk apa. <strong>Kedua</strong>, bagaimana proses keputusan itu kita jalani. Karena itu, dalam keputusan-keputusan yang menurut kita berat, atau menghadapkan kita pada dua pilihan yang membingungkan, kita diajarkan untuk melibatkan Allah langsung. Kita mengenalnya dengan sholat istikharah, sholat meminta petunjuk dan pilihan yang paling baik.</p>
<p>Diriwayatkan dari Jabir, “Bahwa Rasulullah mengajarkan sholat sunnah istikharah kepada kami dalam segala hal. Sebagaimana beliau mengajarkan kepada kami sebuah surat al-Quran, seraya berkata: “Apabila salah seorang di antara kalian menghendaki sesuatu, maka hendaklah ia mengerjakan sholat dua rakaat selain shalat fardhu. Kemudian hendaklah ia berdoa : ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk yang baik dengan pengetahuanMu. Aku memohon agar diberi kekuatan dengan kekuatan-Mu. Aku memohon kemurahan yang sangat luas, karena sesungguhnya Engkau berkuasa sedangkan aku tidak. Engkau Maha Mengetahui, sedang aku tidak. Dan engkau Maha Mengetahui segala yang ghaib. Ya Allah jika engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut jenis perkaranya) baik bagiku, bagi agama, bagi kehidupanku saat ini dan masa depan, maka mudahkanlah ia  bagiku. Kemudian berkahilah ia bagiku. Sedang apabila Engkau mengetahui bahwa perkara itu buruk bagiku,, agam serta kehidupanku saat ini dan masa depanku, maka jauhkan ia dariku, atau aku darinya.berikanlah kepadaku kebaikan di manapun adanya dan jadikanlah aku orang yang ridha dengan pemberian-Mu itu.’<strong>”(HR. Bukhari)</strong></p>
<p>Dengan demikian, bagi kita semua keputusan itu penting. Meskipun keputusan itu bukan keputusan besar. Dari perspektif perasaan terarah oleh bimbingan ilahi dan objektifitas gabungan, sebuah pekerjaan ringan, apalagi pekerjaan berat, bisa memiliki ruh keputusan yang kuat.</p>
<p>Penyandaran dengan sengaja, dan bukan dengan kebetulan itulah yang mendefinisikan niat adalah sebuah keputusan. Niat itulah keputusannya. Karena itulah Abdullah bin Mubarak mengatakan, “Betapa banyak pekerjaan kecil yang bernilai besar karena niat. Dan betapa banyak pekerjaan besar yang bernilai kecil.”</p>
<p>Maka, sepanjang waktu, setiap hari, kita sebenarnya berada pada saat-saat penting membuat keputusan penting. Tak peduli itu keputusan besar atau pun keputusan kecil. <em>Wallahu alam bish shawab.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://insanmulia.net/2010/02/07/ruh-sebuah-keputusan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Produk: Akikah Mulia &#8220;Wujud Kepedulian&#8221;</title>
		<link>http://insanmulia.net/2010/02/04/produk-akikah-mulia-wujud-kepedulian/</link>
		<comments>http://insanmulia.net/2010/02/04/produk-akikah-mulia-wujud-kepedulian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 04:32:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Produk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://insanmulia.net/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Berikan Manfaat Lebih Akikah Anak Anda, melalui paket pilihan dari Akikah Mulia :
- Paket A (Rp 850.000,-) Kambing tidak dimasak (berat 23 kg)
- Paket B (Rp 1.000.000,-) Kare/ Gulai/ Sate/ Tongseng/ Sop/ Malbi                (100 Porsi)
- Paket C (Rp 1.500.000,-) Kare/ Gulai/ Sate/ Tongseng/ Sop/ Malbi           [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000000;"><strong style="font-weight: bold;"><span style="font-weight: normal;">Berikan Manfaat Lebih Akikah Anak Anda, melalui paket pilihan dari Akikah Mulia :</span></strong></span></p>
<p><strong style="font-weight: bold;">- Paket A (Rp 850.000,-)</strong> Kambing tidak dimasak (berat 23 kg)</p>
<p><strong style="font-weight: bold;">- Paket B (Rp 1.000.000,-) <span style="font-weight: normal;">Kare/ Gulai/ Sate/ Tongseng/ Sop/ Malbi                (100 Porsi)</span></strong></p>
<p><strong style="font-weight: bold;">- Paket C (Rp 1.500.000,-) <span style="font-weight: normal;">Kare/ Gulai/ Sate/ Tongseng/ Sop/ Malbi                 + Nasi Kotak + Sayur dan Bua<span style="display: inline;">h (100 porsi)</span></span></strong></p>
<p><strong style="font-weight: bold;"><span style="font-weight: normal;"><span style="display: inline;"><strong style="font-weight: bold;">- Paket D (Rp 2.100.000,-) <span style="font-weight: normal;">Kare/ Gulai/ Sate/ Tongseng/ Sop/ Malbi                + Nasi Kotak + Sayur, Buah, dan Lauk-pauk  (100 porsi)<span id="more-273"></span><br />
</span></strong></span></span></strong></p>
<p><span style="display: inline;"><strong style="font-weight: bold;">Harga sudah termasuk :</strong></span></p>
<p>- Terima pesanan via telepon,</p>
<p>- Biaya kirim/antar,</p>
<p>- Laporan realisasi akikah : tanda terima dan ucapan terima kasih dari perwakilan masyarakat penerima, dokumentasi kegiatan (foto)  dan</p>
<p>- biaya penyaluran akikah kepada yang berhak.</p>
<p><strong style="font-weight: bold;"><span style="font-weight: normal;"><span style="display: inline;"><strong style="font-weight: bold;"><span style="font-weight: normal;">Informasi lebih lanjut hubungi Call Center : 0711 814234  atau hubungi kami di Google Talk dengan email : akikahmulia@insanmulia.net.<em style="font-style: italic;"> (Hari Kerja Senin &#8211; Jumat Pukul 08.30 &#8211; 16.30 Wib)</em></span></strong></span></span></strong></p>
<p><strong style="font-weight: bold;">Layanan Jemput Dana :</strong> 0711 8335688</p>
<p><strong style="font-weight: bold;">Via transfer rekening : </strong>Bank Muamalat no. rekening 9211247999 an. Lili Kurniawan QQ. Dompet Sosial Insan Mulia</p>
<p><strong style="font-weight: bold;"><span style="font-weight: normal;"><span style="display: inline;"><strong style="font-weight: bold;"><span style="font-weight: normal;"><span style="color: #000000;"><em style="font-style: italic;">Layanan ini hanya berlaku untuk Anda yang berdomisili di Kota <span style="color: #ff0000;">Palembang, Sumatera Selatan</span></em></span></span></strong></span></span></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://insanmulia.net/2010/02/04/produk-akikah-mulia-wujud-kepedulian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersemangat Mencari Ilmu</title>
		<link>http://insanmulia.net/2010/02/01/bersemangat-mencari-ilmu/</link>
		<comments>http://insanmulia.net/2010/02/01/bersemangat-mencari-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 08:36:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://insanmulia.net/?p=269</guid>
		<description><![CDATA[Sita Khalifah (33); Pembina Majelis Taklim LKC
&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;
Berawal dari berdirinya LKC (Layanan Kesehatan Cuma-Cuma) tahun 2007 yang merupakan salah satu program dari DSIM, maka dicarilah orang-orang yang sesuai dengan persyaratan layak dibantu dalam hal kesehatan untuk dijadikan anggota LKC. Untuk mengetahui kondisi masing-masing anggota, maka mereka dibina pada pengajian rutin yang diadakan LKC.
Untuk di daerah seberang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sita Khalifah (33);</strong> Pembina Majelis Taklim LKC</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Berawal dari berdirinya LKC (Layanan Kesehatan Cuma-Cuma) tahun 2007 yang merupakan salah satu program dari <a href="http://dsim.or.id" target="_blank">DSIM</a>, maka dicarilah orang-orang yang sesuai dengan persyaratan layak dibantu dalam hal kesehatan untuk dijadikan anggota LKC. Untuk mengetahui kondisi masing-masing anggota, maka mereka dibina pada pengajian rutin yang diadakan LKC.</p>
<p>Untuk di daerah seberang ulu I gang Famili Setia, Ibu-ibu yang dibina beragam dari yang berusia 40-an hingga 65-an. Pengajian yang saya bina ini jumlahnya 16 orang dan alhamdulillah mereka pergi mengaji atas kesadaran mereka sendiri. Awalnya harus diancam dulu “Bu, kalo dak rutin ikut pengajian, izin berobat di LKC dicabut,” tegas mbak Mira (pendamping utama) saat itu. Sebenarnya ini bukan benar-benar ancaman tapi keinginan untuk mengajak mereka pada kesadaran akan ibadah – mengingat rata-rata dari mereka berjualan.<span id="more-269"></span></p>
<p>Pengajian yang saya bina ini, insya Allah rutin dilakukan pada hari Jumat dari jam 2 siang hingga jam 4 sore. Belajar baca iqra’ dan Al Quran layaknya TPA tapi santrinya ibu-ibu. Ada yang lancar tapi ada juga yang bacanya lamban, dan tidak pindah-pindah &#8211; maklum saja mereka ini sudah cukup tua.</p>
<p>Yang saya senang, mereka selalu bersemangat untuk hadir. Sekalipun mereka sakit. Pernah suatu hari, salah satu dari mereka sakit – Ibu Ningdem namanya. Dengan tergopoh-gopoh ia datang, selesai mengaji dia berbaring untuk istirahat dan bangun lagi waktu dengerin tausiyah dari saya. Katanya senang dengerin ceramah saya (tersenyum). Sebenarnya apa yang saya berikan tak lain menyangkut kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Walaupun mereka terletak di daerah pedalaman, yang sebenarnya jauh dari kesan pendidikan, kesadaran kurang kebersihan kurang – tapi merekalah yang menyemangati saya untuk senantiasa hadir di sana. Karena mereka selalu menunggu kedatangan saya. Kalaupun telat, mereka lebih dulu menghubungi saya, menanyakan hadir atau tidak hari itu. Maklum mereka sudah menganggap saya seperti keluarga sendiri.</p>
<p>Kesadaran inilah yang saya usahakan sejak awal. Dengan menerangkan bahwa banyak keutamaan al Quran, di antaranya tidak cepat lupa dan bisa menambah pahala. Saya pun tak diminta untuk dipanggil ustadzah, karena di sini saya juga belajar. Ya belajar mengamati kehidupan mereka yang bersemangat mencari ilmu, di lain sisi mereka harus bekerja untuk menghidupi keluarga sendiri. Buktinya, setiap mengaji rata-rata dari mereka meninggalkan jualanan mereka dan datang mengahadiri pengajian. Ujar mereka, “<em>Masak nyediain waktu dua jam untuk denger ceramah bae idak galak</em>.”</p>
<p>Kerena itu saya bersemangat. Paling tidak nantinya mereka inilah yang akan menjadi contoh bagi keluarga lainnya yang sennatiasa bersemangat mencari ilmu agama. Alhamdulillah dua kali ramadhan, saya mendapat kabar kalau mereka tadarusan sekalipun saya tidak hadir di sana. Nah bagi mereka yang belum bisa baca al-quran, mereka menyimak.</p>
<p>Tidak ada hal lain yang saya inginkan dari mereka, kecuali kesadaran akan ibadah, tilawah, dan bersemangat mengatasi hidup. Dan tak lupa mengingatkan mereka “Manfatkan waktu untuk berusaha mengingat Allah.” <strong>(Nurbaiti/<a href="http://dsim.or.id" target="_blank">DSIM</a>)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://insanmulia.net/2010/02/01/bersemangat-mencari-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memberdayagunakan Ibadah Shalat</title>
		<link>http://insanmulia.net/2010/01/28/memberdayagunakan-ibadah-shalat/</link>
		<comments>http://insanmulia.net/2010/01/28/memberdayagunakan-ibadah-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 04:34:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://insanmulia.net/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[Ibadah shalat adalah ibadah yang paling mendasar dalam kehidupan seorang muslim, dalam kondisi bagaimanapun shalat harus tetap dilakukan sehingga tidak ada alasan untuk meninggalkannya, berbeda dengan ibadah-ibadah yang lain yang suatu saat dapat ditinggalkan atau diganti dengan yang lain. Untuk itu seseorang muslim harus bisa mencapai maksud tertinggi dari ibadah shalat ini, makanya shalat dilakukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibadah shalat adalah ibadah yang paling mendasar dalam kehidupan seorang muslim, dalam kondisi bagaimanapun shalat harus tetap dilakukan sehingga tidak ada alasan untuk meninggalkannya, berbeda dengan ibadah-ibadah yang lain yang suatu saat dapat ditinggalkan atau diganti dengan yang lain. Untuk itu seseorang muslim harus bisa mencapai maksud tertinggi dari ibadah shalat ini, makanya shalat dilakukan bukan hanya sekedar melaksanakan kewajiban akan tetapi harus sampai kepada tingkatan menikmati ibadah karena ibadah shalat ditargetkan Allah swt untuk kebaikan dan kemaslahatan sang hamba.</p>
<p>Bagi Allah sendiri beribadah atau tidak beribadahnya sang hamba tidak menjadi permasalahan, tidak akan bertambah keagungan Allah swt dikala sang hamba taat beribadah kepada-Nya, sebaliknya dikala sang hamba tidak mau beribadah kepada-Nya juga tidak akan mengurangi kebesaran dan keagungan-Nya. Maksud Allah mewajibkan ibadah shalat adalah agar seorang hamba tetap mempunyai hubungan (kontak) dengan Allah swt dimana dengan shalat itu dijadikan sebagai media pengaduan kepada-Nya dengan berbagai permasalahan yang dihadapi manusia dalam kehidupannya, sesuai dengan potongan ayat di dalam QS Al Baqarah [2] : 45 dan 153.<span id="more-266"></span></p>
<blockquote><p>“<em>Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu</em>&#8216;”</p></blockquote>
<p>Keterlatihan seseorang dengan ibadah shalat akan menjadikan dirinya semakin akrab dengan Allah swt sehingga ia tetap akan mengingat Allah di manapun ia berada dan akan membuatnya terbenteng dari perbuatan yang keji dan mungkar. ”<em>Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku</em>. (QS Thaha [20] : 14) Betapapun kondisi dan keadaan di hadapan seorang hamba yang menjiwai shalat itu namun ia tidak akan pernah goyah, gelisah, ataupun salah jalan sehingga melanggar ketentuan-ketentuan Allah yang ada, seperti yang dikemukakan di dalam Al Quran.</p>
<p>Karena kegunaan shalat itu memang untuk hamba di dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupannya makanya ia tidak akan merasa cukup dengan shalat-shalat yang wajib saja dan ia akan menambahnya dengan shalat-shalat sunnat yang lain. Setiap kesempatan shalat sunnat yang ada tentu akan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Rasul SAW telah mencontohkan, diriwayatkan dari A’isyah, “Ya Rasulullah, kenapa ibadahmu seperti demikian rupa, bukankah dosa-dosamu telah diampuni oleh Allah, baik yang berlalu dan yang akan datang?” Jawab Rasul, “Wahai A’isyah, apakah aku tidak akan menjadi seorang hamba yang bersyukur kepada Allah?”</p>
<p>Dari gambaran ini, disimpulkan semakin banyak seseorang mendapatkan nikmat-nikmat dari Allah, hendaknya ibadahnya semakin baik dan semakin mantap. Namun, godaan-godaan duniawi melalaikan manusia dari hal ini. Terbukti banyak kaum muslimin yang tidak mampu bangun Subuh untuk bersujud kepada Allah dan shalat subuh adalah shalat yang paling berat sebab terlihat jama’ah masjid yang paling sedikit adalah ketika shalat subuh.<strong> (*)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://insanmulia.net/2010/01/28/memberdayagunakan-ibadah-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memperoleh Shalat Yang Berdayaguna</title>
		<link>http://insanmulia.net/2010/01/27/memperoleh-shalat-yang-berdayaguna/</link>
		<comments>http://insanmulia.net/2010/01/27/memperoleh-shalat-yang-berdayaguna/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 03:16:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://insanmulia.net/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[”Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>”Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)” <strong>(QS Al Ma’arij [70] 19 – 25)</strong></p></blockquote>
<p>Untuk mendapatkan shalat yang berdaya guna diperlukan beberapa persyaratan, pertama shalat itu dilakukan dengan khusyuk, kedua dilakukan kontinyu, dan yang ketiga memelihara shalat baik dari segi pelaksanaan (tata cara) demikian juga dari segi waktunya.</p>
<p>Shalat yang khusyuk adalah shalat dengan penjiwaan, di mana seseorang berada di dalam shalat yang dilakukannya baik secara ucapan demikian juga pergerakan. Shalat yang kontinyu adalah shalat yang tetap dilakukan dalam kondisi dan keadaan yang bagaimanapun, ketika waktu shalat datang ia tetap melakukannya. Shalat yang terpelihara secara pelaksanaan sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah, setiap anggota tubuh mantap pada setiap pergerakan shalat yang dilakukan. Demikian juga dilakukan di awal waktu secara berjamaah.<span id="more-263"></span></p>
<p>Wawasan ketuhanan yang dimiliki dengan pengertian-pengertian iman akan mendukung kekhusyukan shalat yang dilakukan. Untuk itu shalat tidak akan maksimal kalau hanya dilakukan seadanya tanpa pengertian-pengertian yang mendalam sebagaimana yang diinginkan oleh Allah dan Rasulullah SAW.</p>
<p>Perbaikan-perbaikan terhadap shalat sangat diperlukan sehingga mencapai apa yang diharapkan, makanya perlu pengkajian yang terarah dan menukik, baik terhadap ibadah-ibadah yang dilakukan demikian juga terhadap prinsip-prinsip aqidah ketuhanan Allah SWT.</p>
<p>Namun suatu yang menjadi pertanyaan, Adakah keinginan untuk memperbaiki shalat yang telah dilakukan selama ini dan meningkatkan pemahaman serta pengertian terhadap ibadah shalat tersebut, sehingga ibadah shalat itu dilakukan secara sempurna dan maksimal yang akan mengantarkan kepada hikmah yang dimaksud. Juga, adakah kesempatan waktu untuk mengkaji tentang ibadah shalat ini, bagaimana yang seharusnya, baik dengan cara mengikuti kajian-kajian demikian juga dengan cara membaca dan kemudian mempertanyakannya kepada ulama-ulama yang alim.</p>
<p>Demikianlah bahan renungan untuk perbaikan kualitas ibadah yang telah dilakukan selama ini. Semoga ibadah yang ada akan mengantarkan diri menjadi pribadi-pribadi mukmin yang tangguh dan di ridhai oleh Allah SWT, mampu menghadapi berbagai gejolak dan tantangan dunia ini, amiin. <strong>(*)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://insanmulia.net/2010/01/27/memperoleh-shalat-yang-berdayaguna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
