Ruh Sebuah Keputusan

February 7, 2010    Category: Kajian    No Comments »

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan yang tidak mengetahui sesuatu pun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl : 78)

Mari kita mengingat akan lahirnya kita di dunia, yang tidak memiliki apa-apa dan tidak menanggung apa-apa. Bahkan sangat bergantung pada belas kasih dan bimbingan orang tua dan orang di sekitar kita. Hidup kita nyaris tak punya pilihan dan keputusan penting, karena belum memiliki pengetahuan tentang hidup ini.

Melewati fase itu, kita mulai mencoba mengurus diri. Dan itulah awal kita memiliki tanggung jawab pada diri sendiri; memilih sekolah, belajar sunguh-sungguh, memilih aktifitas yang bermanfaat, dan sebagainya. Fase berikutnya, kita mulai  menemukan jati diri kita. Ternyata banyak peran yang harus kita lakoni, dari yang kecil hingga yang berat dan rumit. Di sinilah keputusan-keputusan penting mulai kita ambil; keputusan-keputusan yang sangat menentukan dalam hidup kita, sehingga tidak ada kata main-main atau sekedar coba-coba.

Ruh sebuah keputusan terkai erat dengan dua hal. Pertama, motivasi atau tujuan dari keputusan itu untuk apa. Kedua, bagaimana proses keputusan itu kita jalani. Karena itu, dalam keputusan-keputusan yang menurut kita berat, atau menghadapkan kita pada dua pilihan yang membingungkan, kita diajarkan untuk melibatkan Allah langsung. Kita mengenalnya dengan sholat istikharah, sholat meminta petunjuk dan pilihan yang paling baik.

Diriwayatkan dari Jabir, “Bahwa Rasulullah mengajarkan sholat sunnah istikharah kepada kami dalam segala hal. Sebagaimana beliau mengajarkan kepada kami sebuah surat al-Quran, seraya berkata: “Apabila salah seorang di antara kalian menghendaki sesuatu, maka hendaklah ia mengerjakan sholat dua rakaat selain shalat fardhu. Kemudian hendaklah ia berdoa : ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk yang baik dengan pengetahuanMu. Aku memohon agar diberi kekuatan dengan kekuatan-Mu. Aku memohon kemurahan yang sangat luas, karena sesungguhnya Engkau berkuasa sedangkan aku tidak. Engkau Maha Mengetahui, sedang aku tidak. Dan engkau Maha Mengetahui segala yang ghaib. Ya Allah jika engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut jenis perkaranya) baik bagiku, bagi agama, bagi kehidupanku saat ini dan masa depan, maka mudahkanlah ia  bagiku. Kemudian berkahilah ia bagiku. Sedang apabila Engkau mengetahui bahwa perkara itu buruk bagiku,, agam serta kehidupanku saat ini dan masa depanku, maka jauhkan ia dariku, atau aku darinya.berikanlah kepadaku kebaikan di manapun adanya dan jadikanlah aku orang yang ridha dengan pemberian-Mu itu.’”(HR. Bukhari)

Dengan demikian, bagi kita semua keputusan itu penting. Meskipun keputusan itu bukan keputusan besar. Dari perspektif perasaan terarah oleh bimbingan ilahi dan objektifitas gabungan, sebuah pekerjaan ringan, apalagi pekerjaan berat, bisa memiliki ruh keputusan yang kuat.

Penyandaran dengan sengaja, dan bukan dengan kebetulan itulah yang mendefinisikan niat adalah sebuah keputusan. Niat itulah keputusannya. Karena itulah Abdullah bin Mubarak mengatakan, “Betapa banyak pekerjaan kecil yang bernilai besar karena niat. Dan betapa banyak pekerjaan besar yang bernilai kecil.”

Maka, sepanjang waktu, setiap hari, kita sebenarnya berada pada saat-saat penting membuat keputusan penting. Tak peduli itu keputusan besar atau pun keputusan kecil. Wallahu alam bish shawab.


Leave a Reply


Color switcher

Scheme: 1 2 3 4 5 6 7 8

Logo

Langganan Berita

Untuk berlangganan update blog ini silahkan masukkan alamat e-mail Anda disini :

Delivered by FeedBurner

Categories

Recent Posts

Tags

Banner