Bersemangat Mencari Ilmu

February 1, 2010    Category: Jendela    No Comments »

Sita Khalifah (33); Pembina Majelis Taklim LKC

———–

Berawal dari berdirinya LKC (Layanan Kesehatan Cuma-Cuma) tahun 2007 yang merupakan salah satu program dari DSIM, maka dicarilah orang-orang yang sesuai dengan persyaratan layak dibantu dalam hal kesehatan untuk dijadikan anggota LKC. Untuk mengetahui kondisi masing-masing anggota, maka mereka dibina pada pengajian rutin yang diadakan LKC.

Untuk di daerah seberang ulu I gang Famili Setia, Ibu-ibu yang dibina beragam dari yang berusia 40-an hingga 65-an. Pengajian yang saya bina ini jumlahnya 16 orang dan alhamdulillah mereka pergi mengaji atas kesadaran mereka sendiri. Awalnya harus diancam dulu “Bu, kalo dak rutin ikut pengajian, izin berobat di LKC dicabut,” tegas mbak Mira (pendamping utama) saat itu. Sebenarnya ini bukan benar-benar ancaman tapi keinginan untuk mengajak mereka pada kesadaran akan ibadah – mengingat rata-rata dari mereka berjualan.

Pengajian yang saya bina ini, insya Allah rutin dilakukan pada hari Jumat dari jam 2 siang hingga jam 4 sore. Belajar baca iqra’ dan Al Quran layaknya TPA tapi santrinya ibu-ibu. Ada yang lancar tapi ada juga yang bacanya lamban, dan tidak pindah-pindah – maklum saja mereka ini sudah cukup tua.

Yang saya senang, mereka selalu bersemangat untuk hadir. Sekalipun mereka sakit. Pernah suatu hari, salah satu dari mereka sakit – Ibu Ningdem namanya. Dengan tergopoh-gopoh ia datang, selesai mengaji dia berbaring untuk istirahat dan bangun lagi waktu dengerin tausiyah dari saya. Katanya senang dengerin ceramah saya (tersenyum). Sebenarnya apa yang saya berikan tak lain menyangkut kehidupan sehari-hari.

Walaupun mereka terletak di daerah pedalaman, yang sebenarnya jauh dari kesan pendidikan, kesadaran kurang kebersihan kurang – tapi merekalah yang menyemangati saya untuk senantiasa hadir di sana. Karena mereka selalu menunggu kedatangan saya. Kalaupun telat, mereka lebih dulu menghubungi saya, menanyakan hadir atau tidak hari itu. Maklum mereka sudah menganggap saya seperti keluarga sendiri.

Kesadaran inilah yang saya usahakan sejak awal. Dengan menerangkan bahwa banyak keutamaan al Quran, di antaranya tidak cepat lupa dan bisa menambah pahala. Saya pun tak diminta untuk dipanggil ustadzah, karena di sini saya juga belajar. Ya belajar mengamati kehidupan mereka yang bersemangat mencari ilmu, di lain sisi mereka harus bekerja untuk menghidupi keluarga sendiri. Buktinya, setiap mengaji rata-rata dari mereka meninggalkan jualanan mereka dan datang mengahadiri pengajian. Ujar mereka, “Masak nyediain waktu dua jam untuk denger ceramah bae idak galak.”

Kerena itu saya bersemangat. Paling tidak nantinya mereka inilah yang akan menjadi contoh bagi keluarga lainnya yang sennatiasa bersemangat mencari ilmu agama. Alhamdulillah dua kali ramadhan, saya mendapat kabar kalau mereka tadarusan sekalipun saya tidak hadir di sana. Nah bagi mereka yang belum bisa baca al-quran, mereka menyimak.

Tidak ada hal lain yang saya inginkan dari mereka, kecuali kesadaran akan ibadah, tilawah, dan bersemangat mengatasi hidup. Dan tak lupa mengingatkan mereka “Manfatkan waktu untuk berusaha mengingat Allah.” (Nurbaiti/DSIM)


Leave a Reply


Color switcher

Scheme: 1 2 3 4 5 6 7 8

Logo

Langganan Berita

Untuk berlangganan update blog ini silahkan masukkan alamat e-mail Anda disini :

Delivered by FeedBurner

Categories

Recent Posts

Tags

Banner